Internet mati! Arrgh, hidup hampa tanpa internet. Tiga hari lalu gw menghabiskan waktu didepan komputer dengan ditemani internet, teman sendiriku untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang berada disebelah, sebelahnya lagi sebelahnya lagi, sebelah dari mana? Sebelah dari dimana aku duduk selama lebih dari 3 hari ini. Mailing list sebelah dimana gw cukup aktif, forum sebelah yang baru gw ikutin agar gw bisa belajar lebih banyak, berita sebelah yang up to date dimana gw mendapat informasi terkini tanpa harus beranjak dari kursi yang nyaman ini
Kursi itu menjadi kosong, menjadi lebih enteng, otot-otot kursi itu bisa direnggangkan lagi, 3 hari kursi itu harus menahan beban lebih dari 90kg. Gw akhirnya pindah ke tempat tidur untuk meluruskan badan
Tempat tidur itu tiba-tiba menerima beban yang sangat berat, terdesak ke bawah secara tiba-tiba, berusaha menahan himpitan yang datang menyeruak dengan cepat dari atas – sampai bawah.
12 jam kemudian gw terbangun oleh suara perut yang memanggil-manggil diriku, perut minta diantar ke restoran padang, karena ingin menemui sahabat sejatinya, Nasi putih panas yang mengebul, paru goreng yang garing, bumbu ayam goreng yang nikmat dan segelas the manis yang menyegarkan. Gw gak bisa menolaknya, gw bangun dan pergi mengikuti kata perut gw.
Setelah perut senang menemui teman-temannya gw berniat untuk kembali ke tempat gw, tapi mata dan kuping menolaknya, mereka bersikeras untuk tidak pulang dulu, 3 hari lebih hanya menatap huruf-huruf dan gambar yang itu-itu saja, mendengar lagu yang dinyalakan berulang-ulang kali, mereka bosan mereka ingin melihat dan mendengar yang lain, apalagi setelah mereka melihat teman-temannya perut yang berwarna-warni itu, mendengar suara-suara di restoran padang tersebut. Mata dan kuping bagaikan mendapatkan perhatian baru yang segar. Mereka mengajak gw ke theater terdekat untuk menonton film yang penuh dengan gambar bagus dan musik yang bervariasi. Sekali lagi gw menuruti keinginan mereka.
4 jam setelah gw bangun, menemani perut, mata dan kuping. Mata gw merasa tidak bisa mengangkat kelopak matanya lagi, tangan dan kaki gw menolak untuk digerakkan lebih lanjut, mereka meminta dengan sangat ke gw agar bisa menutup mata dan meluruskan tangan dan kaki lagi sebentar saja. Gw menuruti.
Internet berinkarnasi, nyawanya dihembuskan kembali oleh yang maha kuasa, mengirimkan data-data yang diperlukan gw agar bisa melanjutkan hidup dan menerima data-data yang gw kirim agar internet tetap hidup.
Sementara tempat tidur menerima beban lagi.
Komen terakhir